Kamis, 09 Oktober 2014

PETIR NEGERI


CIPT: RIMA
Mengambang meneguk lautan
Merayap disela-sela udara
Angin menangis menyasat dada
Semilir mengalir menggugur dunia

Semut sekarat dalam tempurung
Naga membakar kepulan rumpun
Membasmi rumput-rumput suci
Dengan kepekaan terhadap duniawi

Mengapa…mengapa kau yg terpilih tapi berselisih
Kenapa…kenapa kau yg diharap malah tergagap
Kemana…kemana kau sembunyikan ribuan suara
Yang kau tamping dalam harapan dusta

Inikah surge,inikah madu???
Yang kami damba dan kami tunggu
Tak sanggup rasanya kami menahan busuk
Dari pelacur yg kini memimpin negeri.

Pijakan Pertamaku


CIPT: RIMA

Alam bertasbih mengayuh kasih
Menyambut insan yg kian bersedih
Menopang bintang yang terbang
Dihamparan tinta lautan tersayang

Pedangku melawan gejolak api
Melelehkan kebekuan kutub qalbi
Menyingkirkan pemarah dan pembunuh
Biarku tak terjerumus kedalam perut sang buruh

Ini, tanah surgaku
Tempat ku berpijak di bumi suci
Ruangan pemanas ingatanku
Selendang penyarang disaat ku perang

Tali kekuatan menahan diri
Menggelegar bagai gelanggar
Merisik aliran setiap detak jantung
Menguatkan diriku agar mampu mengaung.

Jemari lemah


cipt: rIMA
Tubuhmu merunduk di krikil trotoar
Bersujud meminta sepercik rupiah
Menahan himpitan tembok yg gagah
Merengek tusukan jarum yg lengah

Tatapanmu bagaikan tikus kelaparan
Jemari mengerut menepis takut
Pedih…karena cacing berkelahi dalam perut
Memapas sesuap kenikmatan yg terlaput

Tak mampu ku mengangkat deritamu
Menjulang derajat bersama langit biru
Mengucurkan kasih tak pamrih
Biar kau tak menangis sedih

Anganku membelah patamorgana
Membujuk dunia yg kian mendua
Menepis ribuan semut yg berbaris
Melangkah pasti tanpa jiwa yg menipis.